Kunjungi Channel YouTube kami di "Guru Itung" Channel

Halaman

Thursday, November 11, 2021

Aksi Nyata Program Sekolah Berdampak pada Murid: Sanpang Sannang Sauki (3S)

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Sanpang, Sannang, Sauki merupakan akronim dari Satu Anak Satu Teripang, Satu Anak Satu Karang, dan Satu Anak Satu Kima. Dalam bahasa Makassar Sanpang berarti sampan atau perahu, Sannang berarti tenang, dan Sauki berarti kita merasa puas atau lega. Sampan melambangkan kesederhanaan dan membutuhkan keseimbangan antara sisi kiri dan kanan dalam berlayar mengarungi lautan. Kita tidak perlu kemewahan untuk menjadikan hidup bermakna bagi sesama dan tetap menjaga keseimbangan alam. Sampan yang tenang dalam berlayar akan membuat penumpangnya selamat sehingga mereka puas atau lega.

Teripang, terumbu karang, dan kima merupakan spesies yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan sangat menggiurkan bagi para pelaku ekonomi. Permintaan teripang didominasi dari Hongkong, Taiwan, dan Korea. Sementara permintaan koral atau batu karang biasanya untuk akuarium hias baik di Indonesia maupun untuk dijual ke negara lain. Sementara untuk kima tidak diperkenankan untuk diperjualbelikan ke luar negeri. Sekalipun demikian, spesies yang satu ini masih bisa dikonsumsi di dalam negeri, sehingga permintaan kima di pasar masih tetap ada sekalipun dengan harga yang relatif tinggi disebabkan populasinya yang semakin berkurang bahkan terancam punah.

Permintaan batu karang dan kima kian hari kian bertambah dengan nilai jual yang cukup fantastis. Hal ini membuat oknum-oknum tak bertanggung jawab tak segan merusak terumbu karang dan memperdagangkan kima sekalipun harus melanggar. Akibatnya, sebagian besar terumbu karang rusak sehingga nelayan semakin sulit mendapatkan ikan serta semakin mengancam punahnya populasi kima.

Ancaman punahnya teripang dan kima tidak lepas dari pola pikir sebagian besar nelayan yang hanya menangkap teripang dan kima lalu menjualnya tanpa memikirkan untuk dibudidayakan ataupun diolah sebelum dijual. Padahal mereka bisa membudidayakan ataupun mengolahnya terlebih dahulu agar bisa menambah nilai jualnya.

Oleh karena itulah, melalui program 3S (Sanpang, Sannang, Sauki) siswa dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari berbagai mata pelajaran di sekolah dalam pengolahan teripang, transplantasi karang, dan budidaya kima. Salah satu tujuan program ini adalah untuk membekali Life Skill bagi siswa sehingga menjadi bekal bagi mereka saat dewasa kelak.

Sanpang atau Satu Anak Satu Teripang merupakan program yang membekali siswa keterampilan mengolah teripang dari basah hingga menjadi kering sehingga bisa bernilai jual lebih tinggi. Kegiatan ini dapat menguatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Melalui produk berupa gambar atau video, siswa mendeskripsikan proses pengolahan teripang. Dalam proses pengolahan itu, siswa dapat membandingkan berat, ukuran, dan harga sebelum dan sesudah diolah. Untuk membimbing siswa dalam kegiatan ini, kami melibatkan nelayan dan pengusaha teripang yang ada di pulau Barrang Lompo.

Sannang atau Satu Anak Satu Karang merupakan program yang membimbing siswa dalam melakukan transplantasi karang sebagai upaya untuk memulihkan terumbu karang yang telah rusak. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan karakter peduli lingkungan, kemampuan literasi, dan numerasi pada siswa. Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan proses transplantasi yang mereka lakukan baik melalui video maupun gambar. Mereka juga dapat mempertimbangkan luas meja karang untuk menentukan banyak karang yang ditanam dalam satu meja.

Sauki atau Satu Anak Satu Kima merupakan program yang membekali siswa dengan keterampilan membudidayakan kima sebagai upaya menjaga populasinya dari kepunahan. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan karakter peduli lingkungan, kemampuan literasi, dan numerasi pada siswa. Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan proses transplantasi yang mereka lakukan baik melalui video maupun gambar.  Mereka juga dapat menghitung jumlah sperma dan sel telur yang dihasilkan satu kima berdasarkan volum air dalam bak.

Share:

Saturday, October 16, 2021

Rencana Program Sekolah Berdampak pada Murid: Sanpang Sannang Sauki

Oleh: Jamaluddin Tahuddin


Sanpang, Sannang, Sauki merupakan akronim dari Satu Anak Satu Teripang, Satu Anak Satu Karang, dan Satu Anak Satu Kima. Dalam bahasa Makassar Sanpang berarti sampan atau perahu, Sannang berarti tenang, dan Sauki berarti kita merasa puas atau lega. Sampan melambangkan kesederhanaan dan membutuhkan keseimbangan antara sisi kiri dan kanan dalam berlayar mengarungi lautan. Kita tidak perlu kemewahan untuk menjadikan hidup bermakna bagi sesama dan tetap menjaga keseimbangan alam. Sampan yang tenang dalam berlayar akan membuat penumpangnya selamat sehingga mereka puas atau lega.
Teripang, terumbu karang, dan kima merupakan spesies yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan sangat menggiurkan bagi para pelaku ekonomi. Permintaan teripang didominasi dari Hongkong, Taiwan, dan Korea. Sementara permintaan koral atau batu karang biasanya untuk akuarium hias baik di Indonesia maupun untuk dijual ke negara lain. Sementara untuk kima tidak diperkenankan untuk diperjualbelikan ke luar negeri. Sekalipun demikian, spesies yang satu ini masih bisa dikonsumsi di dalam negeri, sehingga permintaan kima di pasar masih tetap ada sekalipun dengan harga yang relatif tinggi disebabkan populasinya yang semakin berkurang bahkan terancam punah.
Permintaan batu karang dan kima kian hari kian bertambah dengan nilai jual yang cukup fantastis. Hal ini membuat oknum-oknum tak bertanggung jawab tak segan merusak terumbu karang dan memperdagangkan kima sekalipun harus melanggar. Akibatnya, sebagian besar terumbu karang rusak sehingga nelayan semakin sulit mendapatkan ikan serta semakin mengancam punahnya populasi kima.
Ancaman punahnya teripang dan kima tidak lepas dari pola pikir sebagian besar nelayan yang hanya menangkap teripang dan kima lalu menjualnya tanpa memikirkan untuk dibudidayakan ataupun diolah sebelum dijual. Padahal mereka bisa membudidayakan ataupun mengolahnya terlebih dahulu agar bisa menambah nilai jualnya.
Oleh karena itulah, melalui program 3S (Sanpang, Sannang, Sauki) siswa dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari berbagai mata pelajaran di sekolah dalam pengolahan teripang, transplantasi karang, dan budidaya kima. Salah satu tujuan program ini adalah untuk membekali Life Skill bagi siswa sehingga menjadi bekal bagi mereka saat dewasa kelak.
Perencanaan program ini tidak lepas dari manajemen BAGJA, sebagai salah satu model manajemen perubahan. BAGJA merupakan akronim dari Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, dan Atur eksekusi. Rencana ini dimulai dari membuat pertanyaan "Bagaimana melaksanakan program sekolah yang berdampak pada murid melalui program Sanpang (Satu Anak Satu Teripang), Sannang (Satu Anak Satu Karang), Sauki (Satu Anak Satu Kima)?". Sebagai bahan pelajaran, kami mengambil pelajaran dari pengalaman siswa yang telah mengunjungi tempat budi daya kima pertama di Indonesia dan mendapatkan pelajaran tentang cara budi daya kima oleh salah seorang pengelola Hatchery UNHAS yang ada di pulau Barrang Lompo. Selain itu, siswa angkatan sebelumnya juga telah melaksanakan kegiatan transplantasi karang dan beberapa siswa sudah biasa membantu orang tuanya mengolah teripang. Kami berharap melalui program ini, siswa memiliki karakter peduli dan bangga pada lingkungannya, serta memiliki kemampuan literasi dan numerasi. Anak-anak tumbuh  dengan karakter, literasi, dan numerasi  untuk dapat mengambil keputusan sebagai pemimpin di masa depan.
Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan pada pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
  1. Guru mengorganisasikan siswa dalam beberapa kelompok 
  2. Guru memberikan tugas proyek berupa pengolahan teripang, transplantasi karang, dan budi daya kima.
  3. Siswa memilih tugas proyek yang diminati dan mampu mereka lakukan.
  4. Siswa mencari informasi tentang pengolahan teripang, transplantasi karang, dan budi daya kima baik melalui internet, buku, maupun masyarakat sekitar.
  5. Siswa secara berkelompok melaksanakan proyek pengolahan teripang, transplantasi karang, dan budi daya kima.
Kolaborasi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah program. Untuk itu, kami perlu mengatur eksekusi terlebih dahulu. Dalam hal ini, kepala sekolah sebagai penanggung jawab dan para guru sebagai pengarah. Sementara siswa ada yang berperan sebagai Ketua, Sekretaris, Bendahara, Koordinator Perlengkapan, Konsumsi, Dokumentasi, Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Program ini bukan tanpa risiko, tapi risiko juga tidak bisa dijadikan penghalang untuk melaksanakannya. Kemampuan mengidentifikasi risiko lebih awal justru bisa membuat kita dapat mengatur langkah yang tepat untuk menangani dan meminimalkan risiko yang bisa terjadi. Adapun risiko yang dapat terjadi dari pelaksanaan program ini dan strategi manajemennya adalah sebagai berikut:
  • Miskomunikasi dengan kepala sekolah dan rekan sejawat. Solusinya adalah menjalin komunikasi efektif dengan kepala sekolah dan rekan sejawat.
  • Program ini membutuhkan biaya yang tentunya tidak sedikit. Risiko ini dapat diminimalkan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk mengurangi pengeluaran.
  • Pelaksanaan tiba-tiba berubah karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan, sehingga perlu kiranya memaksimalkan pelaksanaan sesuai rencana.
  • Siswa bisa saja melanggar aturan yang berlaku di tempat budi daya kima. Untuk itu, guru perlu  menjelaskan dengan baik aturan yang harus dipatuhi siswa.
  • Pada pelaksanaan program ini dapat memungkinkan terjadinya kecelakaan kerja yang bisa berdampak pada reputasi sekolah. Oleh karena itu, kami akan membentuk tim penolong dari unsur guru dan masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan.

Sanpang Sannang Sauki by Jamaluddin Tahuddin
Share:

Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dalam mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, guru penggerak memegang peranan penting yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, dan mewujudkan kepemimpinan murid. 

Sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru penggerak hendaknya memiliki visi yang bisa melahirkan perubahan positif di sekolah. Untuk itu, guru penggerak dituntut mampu mengelola perubahan positif di sekolah dengan menggunakan paradigma Inkuiri Apresiatif (IA) melalui model manajemen perubahan BAGJA sebagai akronim dari Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, dan Atur eksekusi. Dalam melakukan perubahan, guru hendaknya merubah paradigma dari berpikir berbasis kekurangan menjadi berpikir berbasis kekuatan. Namun demikian, perubahan positif di sekolah dapat terwujud jika didukung oleh budaya positif yang berlaku di sekolah. Budaya positif ini dapat dimulai dari diri sendiri kemudian dibangun di kelas sebagai komunitas terkecil di sekolah. Budaya positif di kelas dapat dimulai dengan membuat kesepakatan kelas bersama dengan siswa. 

Menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak merupakan salah satu tugas guru sebagai pemimpin pembelajaran. Pembelajaran yang dilakukan harus disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi. Kebutuhan belajar murid dapat berupa minat, kesiapan dan profil belajar mereka yang tentunya berbeda untuk setiap anak. Sehingga pembelajaran yang dilakukan mesti disesuaikan dengan minat, pemahaman awal terhadap materi yang baru, maupun gaya belajar mereka, apakah auditori, visual, atau kinestetik. Pembelajaran yang dilakukan tentulah tidak cukup hanya dengan peningkatan aspek kognitif dan keterampilan saja. Perlu dibarengi dengan peningkatan kompetensi sosial dan emosional melalui pembelajaran sosial emosional. Siswa juga mesti dilatih mengenali emosi, mengelola emosi dan fokus, empati, berinteraksi sosial, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Dalam hal ini, guru bisa menempatkan diri sebagai coach. Diperlukan teknik coaching yang bisa digunakan guru untuk mengarahkan rekan guru atau siswa dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi melalui optimalisasi potensi positif yang mereka miliki.  

Kegiatan terbimbing yang dilakukan pada materi pengambilan keputusan sangat berkaitan dengan kegiatan Coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator selama proses pembelajaran terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah diambil. Langkah-langkah pengambilan keputusan yang dilakukan secara terbimbing merupakan implementasi dari teknik coaching yang diperoleh pada materi sebelumnya. Langkah-langkah pengambilan keputusan itu mengarahkan kita dalam menggali potensi yang dimiliki berupa nilai-nilai moral dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Berdasarkan nilai-nilai moral yang ada dalam diri, kita dapat mengambil keputusan dengan menggunakan 3 prinsip berpikir yakni berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis aturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Pengambilan keputusan dengan menggunakan langkah-langkah pengujian tentu sangatlah efektif. Kalaupun dalam pengambilan keputusan itu masih ada sejumlah pertanyaan dalam diri, maka kita bisa merefleksi kembali melalui arahan yang menggunakan teknik coaching. Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Pengambilan keputusan yang tepat tentunya melalui tahapan berpikir dan pengujian benar atau salah sehingga dampak negatif bisa diminimalkan bahkan ditiadakan. Dampak positif yang dihasilkan dapat mewujudkan lingkungan yang positif pula. Lingkungan yang positif tentu akan menciptakan suasana yang kondusif, aman dan nyaman. Guru sebagai pemimpin pembelajaran hendaknya berhati-hati dalam mengambil keputusan. Pemimpin pembelajaran harus memperhatikan paradigma yang berkembang dan prinsip berpikir yang digunakan dalam mengambil keputusan karena keputusan yang diambil seorang pemimpin pembelajaran sangat berpengaruh dalam pembelajaran dan masa depan murid. Filosofi pratap triloka KHD dapat menjiwai setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin pembelajaran sehingga menjadikan dirinya sebagai coach yang baik bagi murid-muridnya.

Guru sebagai pemimpin pembelajaran juga diharapkan bisa merubah paradigma dari berpikir berbasis masalah menjadi berpikir berbasis aset. Diawali dengan melakukan indentifikasi aset atau modal yang dimiliki sekolah. Aset atau modal tersebut terdiri dari modal manusia, sosial, fisik, lingkungan, finansial, politik, agama dan budaya. Pemimpin pembelajaran hendaknya bisa mengelola aset atau sumber daya yang dimiliki untuk pengembangan sekolah. Sehubungan dengan hal itu, guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat memanfaatkan dan mengelola aset yang dimiliki untuk pembelajaran di kelas, pengembangan sekolah, dan pelibatan masyarakat sekitar sekolah. Pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas. Sebagai contoh, sekolah yang memiliki modal manusia berupa siswa yang umumnya pintar berenang apabila dikelola secara tepat melalui latihan renang secara rutin sesuai aturan pertandingan maka sekolah tersebut berpeluang melahirkan atlet renang yang bisa mengukir prestasi.

Peran pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya tentunya sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengatakan bahwa maksud pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat. Dalam hal ini pemimpin pembelajaran ketika mengelola sumber daya tentunya menggunakan paradigma berpikir berbasis aset termasuk di dalamnya kekuatan kodrat yang dimiliki anak-anak. Paradigma berpikir berbasis aset sama halnya dengan paradigma Inkuiri Apresiatif yang menggunakan pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan. Paradigma Inkuiri Apresiatif diimplementasikan dalam model manajemen perubahan yang bernama BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, dan Atur eksekusi). Pengelolaan sumber daya itu sendiri tidak lepas dari tujuan agar peserta didik dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dengan mengetahui aset yang dimiliki melalui proses identifikasi, guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat mendiferensiasi pembelajaran dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab sesuai dengan aset atau modal yang dimiliki.

Pengelolaan sumber daya untuk program yang berdampak pada murid dapat berupa program sekolah yang berfokus pada kepemimpinan murid maupun kepemimpinan kepala sekolah yang inovatif. Program Sekolah yang berfokus pada kepemimpinan murid, seperti program Adiwiyata, program sekolah alam, serta program yang melibatkan peran serta masyarakat. Pada program yang berdampak murid, murid menjadi agen perubahan dalam mengubah lingkungan sekolah seperti kelas, halaman belakang sekolah, dan perpustakaan menjadi lingkungan yang mereka sukai. Sehingga mereka merasa nyaman di lingkungan sekolah karena sudah sesuai dengan lingkungan yang mereka sukai.

Program yang berdampak pada murid adalah program yang meningkatkan keberpihakan pada murid. Dalam hal ini murid mengambil peran aktif dalam pendidikan mereka dan mengembangkan keterampilan positif dalam proses tersebut. Program yang berdampak pada murid dapat menguatkan yang sudah ada (spirit), mendorong kebermaknaan (komitmen), dan mengimplementasikan kepemimpinan murid (kontekstual). Adapun tahap pelaksanaan program yang berdampak pada murid terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam tahap perencanaan,, kita dapat menggunakan 5 tahapan BAGJA, yaitu Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, dan Atur eksekusi. Selain itu, kita juga sebaiknya mempertimbangkan 7 aset/ modal utama yang dimiliki sekolah yang terdiri dari modal manusia, sosial, fisik, lingkungan/ alam, finansial, politik, agama dan budaya. Namun demikian, kita juga tidak boleh mengabaikan risiko yang mungkin bisa muncul pada saat pelaksanaan program yang terdiri dari risiko strategis, keuangan, operasional, pemenuhan, dan reputasi. Risiko strategis merupakan risiko yang berpengaruh terhadap kemampuan organisasi mencapai tujuan. Risiko Keuangan merupakan risiko yang mungkin akan berakibat berkurangnya aset. Risiko operasional merupakan risiko yang berdampak pada kelangsungan proses manajemen. Risiko pemenuhan merupakan risiko yang berdampak pada kemampuan proses dan prosedural internal untuk memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku. Sedang risiko reputasi merupakan risiko yang berdampak pada reputasi dan merek lembaga. Tahapan manajemen risiko terdiri dari identifikasi jenis risiko, pengukuran risiko, melakukan strategi dalam pengendalian risiko, melakukan evaluasi terus-menerus, maju dan berkelanjutan. Untuk mengetahui progres pelaksanaan program, kita juga dapat menggunakan 12 pedoman MELR (Monitoring, Evaluation, Learning, dan Reporting) sebagai alat bantu.

Program sekolah yang berorientasi pada kepemimpinan murid dapat melahirkan dan menumbuhkembangkan budaya kepemimpinan, sikap kolaboratif, rasa tanggung jawab, sikap peduli, dan rasa percaya diri dalam diri murid. Selain menumbuhkan sikap positif, student leadership dapat menumbuhkan keterampilan berkomunikasi dan memiliki keterampilan manajerial yang dapat dimanfaatkan untuk komunitas yang lebih luas di masa yang akan datang.


Share:

Monday, September 13, 2021

Pengambilan Keputusan Bagi Pemimpin Pembelajaran

Oleh: Jamaluddin Tahuddin


Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan hendaknya bisa memberi teladan bagi orang lain terutama siswa. Keputusan yang diambil diharapkan dapat memotivasi orang lain dan siswa untuk melakukan hal-hal yang sifatnya positif. Dan saat berada di belakang, keputusan yang diambil seorang pemimpin pembelajaran hendaknya bisa menjadi mendukung optimalisasi siswa ataupun orang lain. Sebagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi pratap trilokanya yaitu 

  • Ing ngarso sung tuladha, artinya “di depan memberi teladan”
  • Ing madya mangun karsa, artinya “di tengah membangun motivasi”
  • Tut wuri handayani, artinya “di belakang memberikan dukungan”

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita akan sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Jika kita memiliki nilai sosial yang tinggi tentunya kita akan menjadikan kebaikan orang banyak sebagai pertimbangan, maka dalam mengambil keputusan akan didasari oleh prinsip berpikir berbasis hasil akhir. Jika kita menjunjung tinggi prinsip-prinsip/ nilai-nilai dalam diri dan berpegang teguh padanya, maka kita akan mengambil keputusan berdasarkan prinsip berpikir berbasis peraturan. Namun, jika kita berharap orang lain juga akan melakukan hal yang sama terhadap diri kita atau berpikir sekiranya kita berada di posisi orang tersebut, maka kita akan mengambil keputusan berdasarkan prinsip berpikir berbasis rasa peduli.

Kegiatan terbimbing yang dilakukan pada materi pengambilan keputusan sangat berkaitan dengan kegiatan Coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator selama proses pembelajaran terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah diambil. Langkah-langkah pengambilan keputusan yang dilakukan secara terbimbing merupakan implementasi dari teknik coaching yang diperoleh pada modul 2. Langkah-langkah pengambilan keputusan itu mengarahkan kita dalam menggali potensi yang dimiliki berupa nilai-nilai moral dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Berdasarkan nilai-nilai moral yang ada dalam diri, kita dapat mengambil keputusan dengan menggunakan 3 prinsip berpikir yakni berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis aturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Pengambilan keputusan dengan menggunakan langkah-langkah pengujian tentu sangatlah efektif. Kalaupun dalam pengambilan keputusan itu masih ada sejumlah pertanyaan dalam diri, maka kita bisa merefleksi kembali melalui arahan yang menggunakan teknik coaching.

Terkait pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika, kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Nilai-nilai itu sangat mempengaruhi prinsip berpikir seorang pendidik sehingga ikut pula mempengaruhi keputusan yang diambil seorang pendidik.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Pengambilan keputusan yang tepat tentunya melalui tahapan berpikir dan pengujian benar atau salah sehingga dampak negatif bisa diminimalkan bahkan ditiadakan. Dampak positif yang dihasilkan dapat mewujudkan lingkungan yang positif pula. Lingkungan yang positif tentu akan menciptakan suasana yang kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika sangat dipengaruhi oleh paradigma yang berkembang di lingkungan kita. Suatu keputusan terkadang harus melawan kebenaran demi sebuah kesetiaan atau loyalitas pada pimpinan atau suatu keputusan harus melawan keadilan demi sebuah rasa kasihan. Tidak sedikit pula keputusan yang diambil harus mengorbankan kepentingan orang banyak demi kepentingan pribadi atau bahkan lebih mementingkan keperluan jangka pendek ketimbang jangka panjang. Oleh karena itu, dalam mengambil keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran kita mesti melakukan pengujian terhadap paradigma yang berkembang agar tepat dalam mengambil keputusan.

Pengambilan keputusan yang kita ambil sangat berpengaruh terhadap pembelajaran. Oleh karena itu pengambilan keputusan hendaknya berpihak pada murid agar keputusan yang diambil dapat mendukung terwujudnya merdeka belajar bagi murid. Pengambilan keputusan yang didasari prinsip berpikir berbasis hasil akhir dan prinsip berpikir berbasis rasa peduli, tentunya akan mempertimbangkan kebutuhan murid sebelum mengambil keputusan. 

Ketika seorang pemimpin pembelajaran mengambil keputusan berdasarkan paradigma jangka panjang dengan menggunakan prinsip berpikir berbasis hasil akhir dan rasa peduli, maka masa depan murid senantiasa akan menjadi dasar pertimbangan sebelum mengambil keputusan. 

Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan ini adalah bahwa seorang pemimpin pembelajaran hendaknya berhati-hati dalam mengambil keputusan. Pemimpin pembelajaran harus memperhatikan paradigma yang berkembang dan prinsip berpikir yang digunakan dalam mengambil keputusan karena keputusan yang diambil seorang pemimpin pembelajaran sangat berpengaruh dalam pembelajaran dan masa depan murid. Filosofi pratap triloka Ki Hajar Dewantara dapat menjiwai setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin pembelajaran sehingga menjadikan dirinya sebagai coach yang baik bagi murid-muridnya.


 

Share:

Friday, September 10, 2021

Saturday, September 4, 2021

Catatan Akhir Pekan Guru Penggerak Part 17: 9 Langkah Pengambilan Keputusan

Oleh: Jamaluddin Tahuddin


Pekan ini saya mempelajari cara mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ketika diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit dan saling bertentangan. Dalam berbagai contoh kasus yang diberikan, secara garis besar ada dua model kasus. Kedua model tersebut terdiri dari kasus-kasus yang melibatkan dua nilai yang bertentangan. Hanya saja pada model yang pertama, kedua nilai yang bertentangan tersebut merupakan dua hal yang sama-sama benar, yang kemudian disebut dilema etika. Sedangkan pada model yang kedua, nilai-nilai yang bertentangan merupakan dua hal yang berbeda yaitu benar dan salah, yang selanjutnya disebut bujukan moral. 

Pada situasi dilema etika, ada empat paradigma yang terjadi, yaitu 

  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community), 

  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), 

  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty),  

  4. Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term). 

Berbagai kasus dilema etika diberikan dalam bentuk video sebanyak 4 video dilema. Video dilema yang pertama menampilkan Pak Tono yang sedang kebingungan antara menghadiri wawancara atau menolong ayahnya. Adalah benar jika Pak Tono menolong ayahnya terlebih dahulu karena bakti seorang anak kepada orang tua jauh lebih utama daripada wawancara. Akan tetapi benar juga jika dia menghadiri wawancara terlebih dahulu karena Pak Tono sudah buat janji dengan pihak yayasan. Paradigma yang terjadi pada situasi ini adalah dilema rasa keadilan lawan rasa kasihan. Dalam kasus Pak Tono, selain ada dilema antara rasa keadilan lawan rasa kasihan, ada juga dilema kebenaran lawan kesetiaan dan jangka pendek lawan jangka panjang. Sekiranya pak Tono menghadiri wawancara terlebih dahulu, maka ia memenuhi rasa keadilan, kebenaran, dan jangka pendek (dunia). Akan tetapi, jika ia menolong ayahnya, maka ia memenuhi rasa kasihan, kesetiaan, dan jangka panjang (akhirat).

Video dilema yang kedua menampilkan Bu Hani yang bingung antara tetap harus meminta Made membayar denda karena terlambat mengembalikan buku di perpustakaan atau memberikan pengecualian kepada Made karena tergolong siswa tidak mampu. Adalah benar jika Bu Hani tetap meminta Made membayar denda karena itu adalah sesuai aturan yang berlaku. Tapi benar juga jika Bu Hani memberikan pengecualian kepada Made karena kasihan sama Made yang tergolong siswa tak mampu. Paradigma yang terjadi adalah dilema rasa keadilan lawan rasa kasihan. Dalam kasus ini, selain terjadi dilema rasa keadilan lawan rasa kasihan, bisa juga dilema individu lawan masyarakat dan dilema Kebenaran lawan kesetiaan. Jika Bu Hani tetap meminta Made membayar denda, maka ia telah memenuhi rasa keadilan, masyarakat dalam hal ini warga sekolah, dan kesetiaan pada aturan yang berlaku. Akan tetapi, jika ia memberikan pengecualian kepada Made maka ia memenuhi rasa kasihan, individu (Made), dan kebenaran karena menolong orang yang susah.

Video dilema yang ketiga menampilkan Pak Budi yang lagi bingung antara harus jujur dan memberi tahu kepala sekolah mengenai les privat yang diberikan oleh pak Bambang atau melindunginya. Adalah benar jika Pak Budi jujur dan memberi tahu kepala sekolah mengenai les privat yang diberikan oleh pak Bambang karena hal itu sudah menjadi aturan yang berlaku di sekolah tersebut. Tapi benar juga jika Pak Budi melindungi Pak Bambang karena kasihan. Paradigma yang terjadi adalah dilema rasa keadilan lawan rasa kasihan. Selain dilema rasa keadilan lawan rasa kasihan, dalam kasus pak Budi juga ada dilema individu lawan masyarakat dan kebenaran lawan kesetiaan. Sekiranya Pak Budi jujur dan memberi tahu kepala sekolah mengenai les privat yang diberikan oleh pak Bambang, maka ia memenuhi rasa keadilan, masyarakat (siswa dan guru), dan kebenaran. Akan tetapi, jika pak Budi melindungi Pak Bambang, maka ia memenuhi rasa kasihan, individu (Pak Bambang), dan kesetiaan kepada sahabatnya.

Video dilema yang keempat menampilkan tiga orang siswa laki-laki yang lagi bingung antara bermain bola atau membantu temannya mengumpulkan dana untuk karya wisata. Paradigma yang terjadi adalah dilema individu lawan masyarakat. Selain terjadi dilema individu lawan masyarakat, dalam kasus ini juga terjadi dilema jangka pendek lawan jangka panjang. Jika mereka memilih bermain bola maka mereka memenuhi kepentingan mereka bertiga (individu) dan jangka pendek (hari cerah). Akan tetapi, jika mereka membantu temannya mengumpulkan dana untuk karya wisata, maka mereka memenuhi kepentingan masyarakat (teman-temannya) dan jangka panjang karena kegiatan pengumpulan dana untuk kepentingan jangka panjang.

Pemikiran seseorang dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh nilai atau prinsip yang dianut orang tersebut. Prinsip-prinsip yang paling sering mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil keputusan adalah sebagai berikut:

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking

Orang yang mengambil keputusan berdasarkan prinsip berpikir berbasis hasil akhir akan melakukan atau mengambil keputusan dengan senantiasa menjadikan kebaikan orang banyak sebagai pertimbangan. Orang yang mengambil keputusan berdasarkan prinsip berpikir berbasis peraturan, cenderung akan menjunjung tinggi prinsip-prinsip/ nilai-nilai dalam dirinya. Sementara orang yang mengambil keputusan berdasarkan prinsip berpikir berbasis rasa peduli cenderung akan melakukan apa yang dia harapkan orang lain akan lakukan kepada dirinya.

Sebagai panduan dalam mengambil keputusan pada situasi dilema etika, ada 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, yaitu:

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut

  3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan.

  4. Pengujian benar atau salah

Ada lima pertanyaan untuk menguji benar atau salah, yaitu

  1. Apakah ada aspek pelanggaran hukum? (Uji legal)

  2. Apakah ada pelanggaran peraturan atau kode etik? (Uji Regulasi/Standar Profesional)

  3. Apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang diyakini? (Uji intuisi)

  4. Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan di media cetak maupun elektronik  dan menjadi viral di media sosial? (Uji publikasi)

  5. Apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan? (Uji panutan/ idola)

  1. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar, yaitu dengan melihat paradigma mana yang terjadi. Apakah paradigma Individu lawan masyarakat, Rasa keadilan lawan rasa kasihan, Kebenaran lawan kesetiaan, atau Jangka pendek lawan  jangka panjang.

  2. Melakukan Prinsip Resolusi, yaitu dengan melihat prinsip yang akan dipakai. Apakah prinsip Berpikir Berbasis Hasil Akhir, Berpikir Berbasis Peraturan, atau Berpikir Berbasis Rasa Peduli.

  3. Investigasi Opsi Trilema, yaitu alternatif lain yang lebih kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul saat kebingungan menyelesaikan masalah.

  4. Buat Keputusan

  5. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Berbekal 9 langkah di atas, kami mencoba menyelesaikan kasus yang terjadi di sekolah tempat mengajar salah seorang rekan kelompok. Dalam kasus ini, rekan kami berada dalam situasi dilema etika antara mengikuti perintah kepala sekolah untuk mengeluarkan seorang siswa dari sekolah atau tetap mempertahankan siswa tersebut. Namun akhirnya kami memutuskan bahwa siswa tersebut tidak perlu dikeluarkan dari sekolah. Pengambilan keputusan ini didasari oleh ketiga prinsip pengambilan keputusan, yaitu prinsip berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking), karena pada pengambilan keputusan ini kami mengandaikan diri kami berada pada posisi siswa tersebut. Dalam kasus ini, terjadi pertentangan antara rasa keadilan dan rasa kasihan. Sekalipun dalam kasus ini, terjadi pelanggaran tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa tersebut, akan tetapi rekan kami tentu akan merasa tidak nyaman bila keputusan ini dipublikasikan di halaman depan koran. Pasalnya, hal ini bukanlah sesuatu yang bisa menjadi konsumsi publik. Terlebih lagi dampaknya akan terjadi pada siswa itu sendiri. Kami yakin bahwa panutan ataupun idola kami juga akan mengambil keputusan yang sama jika berada pada situasi ini. Selain itu, kami juga memiliki sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma), yakni bekerja sama dengan dinas sosial dalam penanganan rehabilitasi siswa tersebut untuk mendapatkan pembinaan dan pelatihan agar ia tidak lagi melakoni pekerjaan sebagai PSK. Keputusan ini memberikan pelajaran yang sangat berharga yakni guru mesti lebih peduli terhadap siswa dan bagi siswa yang lain bisa lebih menjaga pergaulan demi masa depan mereka.

Dari pelajaran pekan ini, saya berkesimpulan bahwa dilema etika adalah situasi dimana kita diperhadapkan pada dua pilihan yang bertentangan  dan keduanya merupakan sesuatu yang benar (benar lawan benar). Sedangkan bujukan moral adalah situasi dimana kita juga diperhadapkan pada dua pilihan yang bertentangan, akan tetapi yang satunya benar dan satunya lagi bernilai salah (benar lawan salah). 4 paradigma pengambilan keputusan yaitu Individu lawan masyarakat, Rasa keadilan lawan rasa kasihan, Kebenaran lawan kesetiaan, dan Jangka pendek lawan jangka panjang. 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir, Berpikir Berbasis Peraturan, dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli. Orang yang mengambil keputusan berdasarkan prinsip berpikir berbasis hasil akhir akan melakukan atau mengambil keputusan dengan senantiasa menjadikan kebaikan orang banyak sebagai pertimbangan. Orang yang mengambil keputusan berdasarkan prinsip berpikir berbasis peraturan, cenderung akan menjunjung tinggi prinsip-prinsip/ nilai-nilai dalam dirinya. Sementara orang yang mengambil keputusan berdasarkan prinsip berpikir berbasis rasa peduli cenderung akan melakukan apa yang dia harapkan orang lain akan lakukan kepada dirinya. 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yaitu mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut, Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan, Pengujian benar atau salah, Pengujian Paradigma Benar lawan Benar, Melakukan Prinsip Resolusi, Investigasi Opsi Trilema, membuat keputusan, dan merefleksi keputusan. Dari modul ini, saya baru mengetahui bahwa dalam mengambil keputusan kita tidak boleh gegabah. Kita harus memperhatikan banyak hal seperti mengumpulkan fakta, menguji benar atau salah, menguji paradigma, dan yang terpenting adalah kita harus menyadari prinsip yang digunakan dalam mengambil keputusan, apakah berbasis hasil akhir, peraturan, atau rasa peduli. Akan tetapi setelah mengambil keputusan, kita masih harus merefleksi keputusan yang kita ambil.

Sebelum saya mempelajari modul ini, saya hanya menggunakan intuisi dalam setiap pengambilan keputusan terutama dalam situasi moral dilema. Setelah mempelajari modul ini, saya baru mengetahui bahwa setidaknya ada 9 langkah dalam mengambil keputusan jika kita berada pada situasi moral dilema. Materi ini membuat saya lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan terutama pada saat diperhadapkan pada dilema benar lawan benar.

Kedepannya saya berharap bisa menggunakan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dalam mengambil keputusan ketika berada pada situasi dilema etika atau bujukan moral. Dengan demikian, saya bisa mengenal masalah yang sedang dihadapi dengan baik dan dapat mengambil keputusan secara bertanggung jawab. 


Share:

Saturday, August 28, 2021

Catatan Akhir Pekan Guru Penggerak Part 16: Praktik Coaching Model TIRTA

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Pada tahapan demonstrasi kontekstual, guru melakukan praktik coaching di sekolah tempat mengajar dengan menggunakan model TIRTA. Dalam kegiatan ini, guru memilih murid sebagai coachee. Guru memanggil seorang murid yang bernama Nadin ke perpustakaan karena ia melihat Nadin banyak melamun dan kurang semangat dan melalui tahapan Tujuan pada model TIRTA, Nadin membutuhkan solusi sekaligus ingin mengetahui penyebab dari masalah yang sedang dihadapinya. Setelah melakukan identifikasi melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan efektif, ternyata terungkap bahwa Nadin banyak melamun dan kurang semangat disebabkan ia merasa tidak nyaman belajar di hampir semua mata pelajaran. Ia merasa tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik karena susah memahami isi pelajaran itu. Ia sudah menyimak dengan sungguh-sungguh penjelasan dari guru, tapi ia tidak mengingatnya pada saat ulangan sehingga hasil ulangannya tidak pernah tuntas. Sekalipun demikian, ternyata masih ada pelajaran yang mudah ia pahami yakni mata pelajaran Pendidikan jasmani dan seni budaya. Alasannya karena kedua mata pelajaran itu lebih banyak praktek sehingga tidak perlu banyak membaca. Sementara mata pelajaran yang lain mesti banyak membaca dan menghafal rumus terutama matematika. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ia merasa tidak nyaman belajar karena mata pelajaran yang lain kurang prakteknya. Tapi, hal yang menarik dari hasil identifikasi adalah bahwa ternyata Nadin memahami bahwa dirinya bisa menghafal lagu sekalipun liriknya panjang dan ia pun berpikir akan membuat rangkuman pelajarannya berirama seperti lagu. Setelah guru meyakinkan bahwa langkah itu bagus dan menjelaskan bahwa metode itu disebut metode Rhyming. Nadin pun merasa semakin mantap untuk melakukannya. 

Pada tahap Rencana aksi, guru juga menanyakan hal lain yang akan dilakukan Nadin selain membuat rangkuman dengan metode Rhyming. Selain membuat rangkuman dengan menggunakan metode Rhyming, Nadin juga akan membuat kelompok belajar, belajar di tempat yang nyaman dan makan makanan bergizi. Setelah tahapan rencana aksi yang akan dilakukan oleh Nadin dirasa sudah mantap, guru lalu menanyakan komitmen apa yang akan dilakukan Nadin untuk menjalankan rencananya. Dalam hal ini, Nadin berkomitmen akan mencatat dan membuat rangkuman pelajaran dengan menggunakan metode Rhyming dan membuat kelompok belajar. Ia akan mengajak Alya untuk belajar bersama agar bisa membantunya mereview pelajaran karena menurutnya Alya adalah anak yang pintar. Gurupun mengatakan bahwa itu adalah ide yang baik sekali dan meyakinkan Nadin bahwa ia pasti bisa melakukannya dengan baik.

Setelah mempelajari modul Coaching ini, dapat dipahami bahwa Coaching merupakan salah satu proses menuntun belajar murid untuk mencapai kekuatan kodratnya. Sebagai seorang pamong, guru dapat memberikan tuntunan melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. Proses Coaching penting untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat membuat murid melakukan metakognisi. Pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam sehingga murid dapat menunjukkan potensinya. Perbedaan antara coaching, mentoring, dan konseling dapat ditinjau dari aspek tujuan, hubungan, dan keahlian. 

Ditinjau dari aspek tujuan, coaching mengarahkan coachee untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan memaksimalkan potensinya. Mentoring membagikan  pengalamannya untuk membantu mentee mengembangkan dirinya. Konseling membantu konseli memecahkan masalahnya. 

Ditinjau dari aspek hubungan, coaching merupakan kemitraan yang setara dan coachee sendiri yang mengambil keputusan. Coach hanya mengarahkan saja, coachee lah yang membuat keputusan sendiri. Mentoring merupakan hubungan antara seseorang yang berpengalaman dan yang kurang berpengalaman. Mentor langsung memberikan tips bagaimana menyelesaikan suatu masalah atau mencapai sesuatu. Konseling merupakan hubungan antara seorang ahli dan seseorang yang membutuhkan bantuannya. Konselor bisa saja langsung memberi solusi. Ditinjau dari aspek keahlian, coach bisa saja seseorang yang ahli, guru, teman  atau rekan kerja. Mentor adalah seseorang yang berpengalaman dalam bidangnya. Konselor adalah seseorang yang ahli  dalam bidangnya. 

Pendidik diharapkan berperan sebagai penuntun bagi murid, maka kita bersama perlu memahami proses pendekatan komunikasi  Coaching ini agar selaras dengan proses among yang  kita hidupi dalam  keseharian sebagai  pendidik. Pendampingan yang  kita lakukan bagi  anak-anak didik kita, seyogyanya memberikan arti dalam proses tumbuh kembang sehingga para coachee mengalami proses yang bermakna dari setiap langkah TIRTA yang dijalani dan potensi mereka tergali optimal. ARTI sebagai paradigma pendampingan Coaching sistem among merupakan akronim dari Apresiasi, Rencana, Tulus, dan Inkuiri. Dalam proses coaching, seorang coach mempasisikan coachee sebagai mitra dan menghormati setiap apa yang dikomunikasikan, memberikan tanggapan positif dari apa yang disampaikan. Apresiasi merupakan nilai yang terkandung dalam komunikasi yang memberdayakan. Proses coaching dilakukan sebagai pendampingan bagi coacbee dalam menemukan solusi dan  menggali potensi yang ada dalam diri, yang kemudian dituangkan dalam sebuah tindakan sebagai bentuk tanggung jawab (TlRTA). Pada saat sesi coaching, seorang coach hendaknya Tulus memberikan waktu  dan diri seutuhnya dalam  melakukan  proses coaching. Dengan sebuah niat dan kesungguhan ingin membantu coachee dalam pengembangan potensi mereka. Dalam proses coaching, seorang coach menuntun agar coachee dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru atas situasi yang sedang dihadapi. Proses coaching menekankan pada proses inkuiri yaitu kekuatan pertanyaan atau proses bertanya yang muncul dalam dialog saat   coaching. Pertanyaan efektif mengaktifkan kemampuan berpikir reflektif para murid dan keterampilan bertanya mereka dalam pencarian makna dan jawaban atas situasi atau fenomena yang mereka hadapi dan jalani.

Dalam usaha membangun keselarasan berkomunikasi, coach juga perlu belajar menyamakan posisi diri pada saat coaching berlangsung. Beberapa tips singkat yang dapat seorang coach lakukan adalah menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh, menyelaraskan emosi. Setelah mempelajari bagian ini, saya memahami bahwa makna dari membangun sebuah komunikasi asertif dengan murid adalah membangun keselarasan dalam berkomunikasi sehingga murid merasa aman dan nyaman ketika berkomunikasi dengan guru. Dampak yang bisa saya rasakan adalah saya bisa mengetahui tips membangun komunikasi asertif dengan murid, yaitu menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh, dan menyelaraskan emosi. Dengan demikian saya merasa terobsesi untuk mencoba ketiga tips ini ketika berkomunikasi dengan murid. 

Setelah melihat keterkaitan antara berbagai materi, saya memiliki perspektif yang lebih luas yang dapat memperkaya saya dalam membuat perubahan di kelas atau sekolah. Pada tahapan pembelajaran setelah ini, saya melakukan sebuah tindakan sebagai implementasi dari pemahaman yang sudah didapat. Sebagai persiapan melakukan Aksi Nyata tersebut, saya membuat rancangan sederhana dengan mengisi bagan yang ada di LMS. Rancangan aksi nyata ini dilatarbelakangi oleh pentingnya melakukan coaching di sekolah sebagai upaya menuntun rekan sejawat untuk mengatasi masalah yang dihadapi dan masih banyaknya rekan sejawat yang masih tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Aksi nyata yang akan dilakukan bertujuan untuk menuntun rekan sejawat untuk mengatasi masalah yang dihadapi dan menjalin hubungan kemitraan yang setara dengan rekan sejawat sendiri yang mengambil keputusan.

Adapun rencana tindakan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Mencari rekan sejawat yang membutuhkan bantuan untuk mengatasi masalahnya.

2. Membuat kesepakatan bertemu untuk membahas masalahnya.

3. Melakukan coaching dengan menggunakan model TIRTA

  • Menanyakan tujuan dan harapan rekan sejawat dari diskusi itu.
  • Melakukan identifikasi terhadap kekuatan, peluang, hambatan, dan solusi dari rekan sejawat terkait masalah yang sedang dihadapinya.
  • Menanyakan rencana aksi yang akan dilakukan oleh rekan sejawat, meliputi rencana, prioritas, strategi, waktu, ukuran keberhasilan, dan cara mengantisipasi hambatan yang akan dihadapi.
  • Menanyakan tanggung jawab yang meliputi komitmen yang akan dilakukan, orang yang akan dilibatkan, dan tindak lanjutnya.

4. Melakukan refleksi terhadap kegiatan coaching yang telah dilakukan.

Tolok ukur keberhasilan aksi nyata ini adalah rekan sejawat bisa membuat keputusan sendiri untuk memecahkan masalahnya dan tidak lagi merasa bergantung pada coach. Dukungan yang dibutuhkan dalam rencana aksi nyata ini adalah keterlibatan rekan sejawat baik guru ataupun staf. Rancangan aksi nyata ini akan dilaksanakan pada saat kunjungan Pendampingan Individu ke-4. Calon Guru Penggerak bersama rekan sejawat yang sudah diminta untuk latihan coaching akan mempraktikkan coaching di depan pendamping. Dalam hal ini rekan sejawat menjadi coachee. Setelah Calon Guru Penggerak bersama rekan sejawat praktik coaching, Calon Guru Penggerak dan rekan sejawatnya akan melakukan refleksinya, baik secara tertulis ataupun lisan.



Share:

Komentar Terbaru

Translate

Followers

Guru Itung. Powered by Blogger.

Contact Form

Name

Email *

Message *